Wednesday, September 3, 2014

JTM 16: Kuliah Kerja (Benar-benar) Nyata

Bismillaah :)
Assalamu'alaykum warahmatulloh wabarakatuh..




“Untukmu negeriku, terimalah salam bakti dari kami
Ajari kami arti hidup yang sebenar hidup
Ajari kami arti  cinta pada ibu pertiwi
Ajari kami arti tetes darah dan keringat pahlawan kami
Ajari kami cara terbaik mengisi kemerdekaan kami dengan hati sanubari
Untuk tanah airku tercinta, Indonesia
Tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata.."
(Amdela, 2014)

Alhamdulillaah, selesai sudah KKN kali ini. Beribu syukur, ucapan terimakasih lengkap dengan permohonan maaf, serta do'a yang sembunyi-sembunyi terlantunkan. Ada kelegaan, ada keharuan, ada ketakjuban yang terselib dari ini semua. Cukup Allah Ta'ala yang menilai gerak gerik kami disana.

Cerita kali ini akan sangat random sepertinya. Bukannya tidak mau membuka folder tentang setiap detiknya, tapi rasanya akan butuh banyak waktu untuk menuliskan semua tentang kalian. Kali ini, mari kita mulai dari awal. (Sambil contek I-2)



“Pertama kali aku bertemu dengan kalian. Aku tidak mengingat apapun. Tidak teringat apakah langit tampak cerah saat itu, atau malah matahari yang bersembunyi? Karena… bagiku yang terlihat dan teringat jelas hanyalah diri kalian..”

Perkenalkan, kami pejuang JTM 16. Kami beranggotakan 25 orang yang berasal dari berbagai pulau dan provinsi. KKN kami dibagi menjadi empat sub unit, yaitu Dusun Gumong, Darih, Baalang, dan Geppeng. Di akhir-akhir KKN nanti, kita punya nama untuk masing-masing sub unit, KaGum (Keluarga Gumong), PeRih (Persatuan Darih), KeBal (Keluarga Baalang), dan MuPeng (Manusia Geppeng). Betapa bersyukurnya saya karena kami tinggal satu unit, bukan per sub unit. Ini kesempatan langka menurut saya karena dengan seperti ini, saya bisa mengenal buanyak orang, tidak hanya sebatas satu sub unit. Selain dibagi empat unit, kami dibagi lagi dalam lima bidang, yaitu bidang Infrastruktur, Energi, Pertanian, PSDM, dan Kesehatan.

Keberangkatan dimulai setelah upacara pelepasan menggunakan bus untuk langsung jalan dari Jogja ke Madura. Bus kami aman dan tenang, tapi kalau masalah nyaman itu subjektif. Kita satu bus dengan barang-barang bawaan yang tumpeh-tumpeh. Menurut saya, di awal masih diaam sekali. Kalau kata Mbak Fivi, pencitraan di awal berhasil. Entah di akhir nanti :) Oh iya, sejak awal saya sudah ingin masuk ke KKN ini, melihat orang-orangnya yang semisi buat benar-benar KKN. Background mereka yang kebanyakan dari KSF juga menjadi pertimbangan tersendiri karena menurut saya misi dan visi gerak KKN itu sangat dipengaruhi oleh orang-orang yang ada di dalamnya.

Singkat cerita, sampailah kami disini, di tanah Madura yang kata orang pulau garam di Indonesia. Pantainya panjang terhampar sewaktu kita dalam perjalanan. Jembatan Suramadu juga terlihat bercahaya dari kejauhan. Ah iya, saya mengharu biru waktu Pak Rohman dan Bu Rohman masih mengenali saya ketika saya datang. Padahal, PPMBR yang dulu saya ikutin sudah laamaa. Ah ibuu, masih sama mudanya, malah sekarang sudah ada Maqin nye nye nye :)


KKN kami mempunyai total program sekitar 24, mulai dari program tema dari bidang pertanian dan energi hingga program non tema dari infra, psdm, dan kesehatan. Ini ada beberapa dokumentasi terkait pelaksanaan program. Mungkin, tidak akan saya ceritakan semuanya, cukup beberapa yang semoga ketika saya ceritakan bisa menginspirasi dan bermanfaat.



Pembuatan Biopestisida hingga panen
Pembuatan Biogas permanen untuk listrik
Pembuatan pupuk kompos hingga panen
Penyuluhan Cuci tangan, gosok gigi, dan jajan sehat
Pembuatan Dhudhul Pao (Dodol Mangga)
Aplikasi Vertikultur
Pembuatan Pakan Ternak
Peningkatan Minat Baca Dusun Darih


Semua kegiatan selalu mempunyai kesan tersendiri. Tentunya masih buanyak agenda yang tidak di dokumentasikan di blog ini. Pada intinya, saya belum ngopy semua kegiatan di KKN. Di blog ini, saya ingin menceritakan kisah adek-adek sholih solihah yang kita ajak program peningkatan minat baca. Kegiatan ini dilaksanakan setelah Isya' di langgar Bibi Siti. Jadi, di Madura setiap kelompok rumah (3-4 rumah) mempunyai langgar kecil untuk sholat dan mengaji. Di ruma Bibi Siti (kami manggilnya Mbe Siti).


Adek-adek disini mempunyai jam terbang yang luar biasa tinggi. Pagi biasanya sekolah sampai siang, nanti jam setengah dua sudah mulai madrasah sampai sore, lanjut ngaji di langgar sampai Isya'. Jadi, disini mereka jarang belajar kalau nggak ada PR. Oleh sebab itu, PMB (Peningkatan Minat Baca) dilakukan untuk memantik kecintaan mereka terhadap ilmu. Di langgar Bibi Siti, ada sekitar 12 anak. Suatu sore kita belajar tentang cita-cita. Ah iya, dibagian ini saya ingaat sekali cita-cita kalian. Yang ingin jadi dokter ada dik Sida, Mila, dan Dik Fara. Dik Iis ingin banget jadi Guru Bahasa Arab. Ada lagi dik Fahri yang mau jadi polisi, katanya biar bisa nangkap penjahat. Kalau Rawi katanya mau jadi pilot. Yang mau jadi guru IPA ada dik Maria. Nah, ini yang menurutku ehm membuat saya berpikir berulang-ulang. Namanya dik Zainal kelas 2 SD.

Nungki: Zainal mau jadi apa?
Zainal: Bu Nungki, Bu Nungki. Zainal punya dua cita-cita!!
Nungki: Wah, keren? Apa aja?
Zainal: Pertama, Zainal mau jadi Guru Agama!
Nungki: Bagus-bagus, muridnya nanti harus pintar kayak Zainal yaa
Zainal: Keduaa, zainala mau jadi MANUSIA SERIGALA! Haha
Nungki: ^$^%#%^#& Kamu tau itu darimana dik?
Zainal: Bu Nungki nggak tau GGS ya?
Nungki: Apa?
Zainal: Ganteng-ganteng Serigala Bu Nungki! Besok, kalau saya ketemu Bu Nungki tak gigit. Oh iya, Zainal suka Galang, Bu!
Nungki: (Mulai saat itu, saya tau tokoh-tokoh di GGS)

Oh iya, singkat cerita (lagi) kami penarikan dan bersiap pulang. Kita semua mampir ke tempat Bu Nyai di Pondok pesantren At-Tahririyah deket pantai. Jadi, di pondok yang benar-benar deket pantai, punya nuansa dan pesona tersendiri. Pernah waktu malam Ramadhan, kita diundang untuk buka bersama. Waktu itu, kita diajak muter pondokan hingga sampai di sebuah pondokan yang kalau kita buka jendela belakang, langsung berhadapan dengan pantai. Disana, polusi cahaya masih dikit. Jadi, ini untuk yang pertama kalinya saya bisa lihat inti Galaksi kita yang berada di rasi Sagitarius. Kalau bahasanya, bintang yang dilihat disini tipikal Excellent Dark Sky Site. Masya Allah. Pengen nangis, Allah Ta'ala berasa dekan dan indaah sekali.


Lanjut cerita yang tadi ya. Jadi, waktu antri mau jabat tangan untuk perpisahan, tiba-tiba dik Zainal dataang. Sontak saya bilang, "Zainal, mbak pulang dulu ya. Jangan lupa, belajar yang pinter jadi guru agama..". Terus dia bilang, "Bu Nungki, cita-cita Zainal udah nggak jadi manusia serigala. Tapi ganti jadiii, Boboboy..". Ah ini adik, selalu bisa buat saya ketawa. Begitu keluar dari pondokan, rasanya random. Ibu Nyai menangis, menghantarkan kami pulang. Padahal, kita nggak banyak merasa memberikan apa-apa. Rumah beliau malah kami repotkan. Kandang sapinya dijadikan tempat untuk pelatihan pakan ternak, supaya kader yang terbentuk banyak. Kan disini banyak santri.


Begitu saya keluar menuju bus, tetiba ada yang menghambur memeluk saya. Anak kecil inii.. Namanya dek Iis, pelukannya sesaat. Yang saya lihat, dia menangis berkaca. Tanpa berkata apa. Ah, pagi itu hanya sedikit yang bisa saya pesankan, "Jadi guru bahasa arab yang pintar ya. Adik-adik di langgar disuruh belajar yang rajin yaa. Mbak titip ke Iis.." Sekali lagi saya peluk dia.


KKN ini telah memberikan banyak sekali pelajaran. Bahwa perjuangan yang saya anggap berjuang, belum apa-apa dibanding semua yang saya lihat di Madura. Dik Mufa yang harus jalan kaki menuju Madrasah jauuh sekali dan selalu datang tepat waktu. Ibu-ibu yang nggak pernah capek mencari kerang di tepian pantai, mencari pakan untuk ternak mereka, dan kepada mereka yang selalu menginspirasi. Kami sadar, kehadiran kami tidak menuntaskan semua masalah, justru kadang kami yang menambah repot. Mengajak bapak ibu menjaga vertikultur, biogas, membalik pupuk, panen biopest, dll.


Kehangatan kalian telah membuat kami mengerti, bahwa untuk sekedar beristirahat sejenak saja kami tak pantas. Pak Salim juga pernah tanya, "Mbak, kata orang-orang uang kami yang miskin itu dititipkan ke pemerintah ya? Itu ada mbak? Cara mengambilnya bagaimana?" Ah bapak, kami semakin merasa tidak berguna disini. Doa kami, kami lantunkan pelan-pelan, supaya ribuan malaikat ikut meng-aamiin-kan doa kami. Diam-diam kami mengingat detail kehidupan kalian. Semoga, kelak kesejahteraan terbangun disini, di salah satu sudut Madura yang penuh cerita.


Terimakasih untuk semua yang hadir menjadi pelengkap. Akan ada banyak rindu sepertinya, untuk basecamp Darih, pak Rozak Bu Rozak, Pak Royan yang mengirimkan berbungkus-bungkus permen untuk bekal kami pulang, Pak Rohman Bu Rohman, Mbak Halimah, Hikam, Al, Maqin nye nye nye nye, dan semua rekan KKN yang luar biasa berhati besar.


Terimakasih untuk teman-teman ciwi-ciwi yang sabar kalau saya bangunin dan saya recokin pagi hari. Yuk, kita sholihah bareng-bareng ya. Teman-teman 'sekamar' Mbak Anis, Mbe Siti.. Terimakasih atas kesabarannya. Semuanya terimakasih, walaupun pencitraan kita semua gagal, bangga dan bersyukur bisa berjuang bersisian dengan kalian (Mbak Anis, Putri, Mbak Fifi, Mbak Ivone, Mbak Siti, Mami, Ratri, Nita, Ami, Ifa, Linggar, Yudith, Dwi, Dini, dan Mbak Ana)


Terimakasih untuk teman-teman semua yang dengan sabar mengerti prinsip hidup saya. Walaupun kalian laki-laki hanya bersembilan, kalian luar biasa militan (Ilham, Zharif, Tyo, Finny, Dana, Perdana, Danial, Tias, dan Ramdhan)



"Setiap orang punya jalan takdirnya masing-masing kan? Tapi, biar aku sedikit takjub karena Allah Ta'ala menautkan takdir kita pada kisah penuh makna ini, KKN JTM 16"

Selamat bertebaran di tempat lain kawan, selamat membuat cerita lain yang lebih inspiratif! Merasakan sindrom KKN ga? Saya iya. Pengen kumpul lagi, pengen kerja bareng lagi!




3 September Penuh Ceria 2014
Di sebuah sudut rumah
Bantul, Yogyakarta

1 comment: