Wednesday, December 25, 2013

My Journey: Gunung Merbabu 3.145 mdpl

"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk." 
(QS Al-Anbiya' : 31)

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Akhirnya, punya keinginan untuk menuliskan satu dari sekian banyak perjalanan yang menurutku sangat bermanfaat untuk dikisahkan. Iya, ini tentang perjalanan alam bersama 5 perempuan tangguh lainnya. Ah, ada banyak cara bersyukur, Allah telah menyatukan kita dalam satu cerita yang bermakna. Aku sering menyebutnya, "Perjalanan Asma'". Kisah ini dimulai dari keinginan tanpa mimpi yang terencana.


Teman-teman pasti tau kisah di film 5 cm. Nah, itu yang membuatku terbangun. Nungki, ada banyak jutaan tempat yang belum kamu kunjungi. Mungkin, kau akan menemukan banyak kisah tentang Yang Maha Kuasa. Jadi, bergegaslah! Dan, akhirnya ku mention si anak gunung, namanya Nurul Pratiwiningrum. Akhwat tangguh satu ini yang akan menjadi kunci buat ijin naik gunung ke bapak ibu pakai rok.


Dan inilah akhirnya, kita memutuskan untuk naik tanggal 16 Agustus 2013. Ekspektasi tentang matahari 17 Agustus, samudera awan dan semua tentang perjuangannya sudah terbayangkan. Alhamdulillah, setelah lamaa berdiskusi dengan bapak ibu, adik-adik juga keinginan itu dan ijin itu didapatkan sudah. Susah? Pasti, karena ibu sebenarnya tidak terlalu suka melihat anak-anaknya melakukan hal semacam ini. Tapi, berhubung semua perempuan, kata ibu baguslah, aman.


Perjalanan Menuju Magelang


Perjalanan menuju Magelang (karena kami mau mendaki lewat jalur Wekas) kami awali dari rumah. Berbekal tas carrier 20 Liter dengan segala perlengkapan syalala-nya, saya dan satu teman saya Mbak Widy, berangkat dengan motor menuju Magelang dari Bantul. Singkat cerita, perjalanan dimulai sore hari (pukul 15.30 WIB) pakai motor sendiri-sendiri. Berhubung kita tidak pernah ke Magelang naik motor dan hanya berbekal peta singkat dari sms Nurul, maka dapat dipastikan kami tersesat kemana-mana. Sampai akhirnya, kami beristirahat untuk sholat maghrib di suatu Masjid. Disana, banyak orang yang bertanya tentang tujuan kami dengan tas sebesar karung beras itu. Pertama, kami sadar kalau kami 'aneh'. Lihat saja packaging kami, gamis serba hitam lengkap dengan jilbabnya, sepatu sporty, jaket tebal, tas carrier, dll. Dan benar, ada bapak-bapak yang bertanya, "Mau kemana, Mbak?". "Hehe, mau naik gunung, Bapak". Bapak itu dengan segera mendoakan kami untuk berhati-hati karena cuaca sedang dingin-dinginnya dan sering hujan. Dan, deg! Itu doa dan nasihat kedua setelah aku mendengarnya pagi tadi dari Ibu. Entahlah, sejak malam itu, hanya berdoa dan berdoa yang ada di pikiran saya. Tapi, justru aku semakin yakin karena bekalku sangat lebih dari cukup, yaitu ridho bapak ibu yang mengijinkanku naik gunung. Daan, singkat cerita, sampailah kami di rumah Nurul buat menginap malam itu pukul 21.00 WIB.

Akhirnya, puncak itu berjarak lebih dekat dari kami. Semakin dekat dan justru debar ini semakin kencang.. Semoga kita berjodoh.

Perjalanan Menuju Pos Pemberangkatan


Perjalanan menuju Pos pemberangkatan diawali dari rumah Nurul (aku dan Mbak Widy) menuju stasiun yang saya lupa namanya. Disana, kita menunggu Uni dan Putri yang naik Bus dari kampus UGM, Mbak Riska dari Semarang, dan Simbah porter juga entah darimana. Kita charter mobil langganannya Nurul kalau naik ke Merbabu. Kira-kira setiap orangnya bayar Rp. 20.000,00. Menurutku, itu sudah harga terjangkau. Akhirnya kita bisa kumpul genap, ditambah dua orang [endatang yang saya nggak kenal. Namanya, mbak Fitri dan Mas Yatna. Ternyata, beliau-beliau ini temannya simbah. Sepanjang perjalanan, masya Allah, tanaman sayuran mulai dari wortel, kubis, selada keriting, seledri, dan yang membuat mataku berbinar banyaak sekali kebun bunga mawar. Rasanya, mau banget nyetop mobil dan berhenti buat lihat kebun bunga mawar. Tapi, waktu tetap berjalan dan puncak Merbabu sudah mulai terlihat. Alhamdulillah kami sampai di pos pemberangkatan sekitar pukul 12.00 WIB dengan tiket masuk Rp. 3000,00 saja. Hal yang aneh tentunya masih sama dengan hari-hari sebelumnya, pakaian kami terlalu aneh untuk dijadikan kostum naik gunung. Iya, rok lebar, baju panjang, kaos kaki, jilbab lebar. Tapi, it's oke, nanti insyaAllah kita akan sama-sama menikmati puncak yang sama dengan kostum yang berbeda.

Dan, puncak semakin dekat. Seperti ada di depan matamu. Semakin kesini, semakin bertekad. "Kau harus pulang dengan selamat, puncak itu hanya bonus!" Tapi, doa itu masih tetap sama, semoga aku dan puncak itu berjodoh ya Allah.


Ini Tempat Pos Pemberangkatan
Masjid Nurul Hudha, tempat paling Aman, Nyaman, Damai :)

Pendakian Menuju Pos 2

Pendakian menuju Pos 2 dimulai sekitar pukul 14.00 WIB dengan pasukan lengkap, aku, Uni, Putri, Nurul, Mbak Widy, Mbak Riska, Simbah Porter, Mas Yatna, dan Mbak Fitri. Awal perjalanan kami buka dengan doa bersama dan memilih satu pemimpin. Akhirnya, Nurul yang jadi pimpinan rombongan Asma' (rombongan 6 wanita tangguh kalau aku bilang). Perjalanan pertama, jalan yang kita lalui masih disekitaran penduduk, jalan menanjak terus dengan jalanan tipe semen cor. Nah, ini! Baru setengah jam berjalan, kelihatan banget aku yang paling kecapekan. Rasanya, subhanallah banget. Udah dalam ati, "Ya Allah, ini capeknya kayak gini gimana caranya bisa sampai puncak?". Rasanya udah mau nyerah beneran. Jantung detaknya ga karuan, panas dingin, pusing, pucat, haus, berasa melayang. Persis kalau kita darah rendah. Akhirnya, disemangati lagi dan terus disemangati sama Nurul dan tentunya motivasi diri yang kuat. Akhirnya, kaki ini mau berjalan lagi.




Akhirnya, setelah sekuat tenaga bertahan sambil tukeran-tukeran tas carrier dan membagikan beban bawaan ke beberapa orang, melepas jaket, dll rasanya lebih baik sampai jalanan ini akirnya selesai didaki. Selanjutnya, perjalanan manarik menuju Pos 2 adalah jalan tipe undakan tanah. Ternyata, ini tipe jalan yang lebi baik versi diriku.


Perjalanan selanjutnya, sangat menyenangkan karena banyak coklat dan permen. Ternyata, naik gunung itu paling enak makan coklat. Percayalah.. Selain itu, ini pertama kalinya saya sholat di alam yang benar-benar limited air dan suasana alamnya masyaAllah. Bersujud dalam-dalam beralaskan tanah, rindang, damai, nyaman. Rasanya, dekaat sekali. Menjelang sore hari, ini juga pertama kalinya saya baca Al-Ma'tsurat di seperjalanan naik gunung. Ya, kami punya target amalan selama naik  gunung. Mulai dari hafalan, sholat berjama'ah, hingga tilawah. Semua kita niatkan sebagai ibadah insyaAllah. Perjalanan kali ini benar-benar luar biasa. Oh iya, diseperjalan ini membuat saya merubah suatu pandangan tentang anak-anak pecinta alam. Dulu, saya menganggap mereka sebagai orang yang, yaa taulah bagaimana citra anak pecinta alam. Serba tidak beraturan. Tapi disini, saya mulai paham kenapa solidaritas mereka tinggi. Mereka orang yang ramah, berbagi banyak hal, dan tidak segan untuk menyapa dan saling mendoakan seperjalanan ini. Kalian luar biasa.

Puncak semakin dekat dan degub jantung ini semakin berdebar. Semoga kita berjodoh..




Pukul 17.00 WIB sifat anak-anak mulai kelihatan nih. Ada yang hopeless  karena ga sampai-sampai. Ada juga yang sukaa banget menyemangati. Tapi ada juga yang diam fokus banget untuk mendaki karena semakin ke atas, track nya semakin terjal dan kita harus pegangan pakai akar-akar pohon supaya tidak jatuh atau terpeleset. Dan, pemandangannya masih sama. Hutan dan hutan. Kita belum menemukan pemandangan yang membuat takjub. Sampai akhirnya, matahari mulai terbenam dan suara riuh mulai terdengar. "Nungki, sampai Pos Duaaa!" Alhamdulillah. Sampai juga disana tepat waktu maghrib. Kami segera ganti baju sebelum hipotermia melanda kami (ini penting!) dan sholat Maghrib berjama'ah.

Waktu semakin malam dan dinginnyaa. Banyak sekali yang bilang, kali ini Merbabu ada pada puncak dinginnya. Waktu itu, sleeping bag saya dipakai uni karena dia nggak bawa dan pas sakit. Alhasil, saya tidur sambil memasukkan kaki dengan kaos kali lapis dua ke tas carrier siapa saya ga tau. Menggigil kedinginan. Yang berkesan malam itu, kita masak enak. Kita masak ayam rica-rica dan minum susu, teh hangat, dll. Ah, ini baru benerah kemah. Beberapa jam selanjutnya, itu benar-benar perjuangan untuk menghangatkan diri. Bahkan saya sempat berpikir, "Semoga saya masih hidup sampai sepertiga malam nanti.."

Dan, puncak semakin dekat. Sekarang kau bisa melihatnya dengan jelas. Kau tau, aku baru paham. Disini, bintang berbinar lebih terang dan kau yang bermimpi mendekap awan, kau akan menemuinya setiap saat. Ah, belajarlah pada alam. Kau juga akan semakin tahu bagaimana rasanya hidup itu benar-benar bergantung pada Allah Subanahu wa Ta'ala. Disini, disetiap jengkal langkah, kau akan banyak belajar tentang keajaiban hidup itu sendiri.

Pendakian Menuju Puncak


Singkat cerita, kita bangun sepertiga malam. Rencananya, kita akan berangkat pagi ini menuju puncak. Dari pos 2, kita melihat binar cahaya berjalan vertikal. "Nurul, itu lampu senter para pendaki ya?". "Iya Nungki, nanti kita juga naik lewat sana..". Entahlah, pagi itu aku meneteskan air mata. Semua jadi sangat jelas, doa Ibu, doa Bapak, adek-adek, doa Bapak yang di Masjid itu, juga doa Ibu nya Nurul. Ya Allah, semoga Engkau mempermudah ini semua. Yang membuatku paling sedih, hari ini akan ada acara puncak aksi Nasional untuk saudara kami di Mesir. Sangat sedih tidak bisa bergabung dengan mereka, maka dalam seperjalanan menuju puncak beberapa jam nanti, doaku untuk kalian saudariku di Mesir.

Perjalanan menuju puncak pertama, kita menuju ke gerbang angin atau Pos 3. Jalanan masih sama, kanan kiri utan dan sesekali jurang. Kira-kira beberapa jam, kita berhenti sholat Subuh dan makan ebberapa kue. Entahlah, pagi ini benar-benar lapar. Selanjutnya, kami berjalan dan terus naik. Awalnya mau lihat matahari terbit tapi puncak pertama tidak terkejar. Akhirnya, kita pustuskan untuk menuju puncak utama di Klentheng Songo. Nah, track menjuju puncak ini saya sangat suka. Tebingnya hampir setinggi saya, jadi ini beneran semacam panjat tebing. Seperjalan naik yang kita lihat, masyaAllah. Bunga Eidelweis dimana-mana. Kita beruntung, sekarang Bunga Eidelweis sedang bermekaran musim berbunga. Tapi ingat, jangan sampai memetik apalagi merusak dan membawa pulang. Yang boleh diambil saat naik gunung hanyala foto.

Bunga Eidelweis #1
Bunga Eidelweis #2
Bunga Eidelweis #3
Perjalanan menuju puncak tertinggi Merbabu, lumayan membuat kita berdegub takjub. Terutama setelah kita sampai di Gerbang Angin (Pos 3).. Disini pemandangannya, menakjubkan! Sudah berasa di puncak menurutku. Sepanjang perjalanan nanti, jalanan begitu menantang dengan jurang di kanan kiri kita.




Nantinya, perjalanan menuju puncak seperti ini, setelah kita melewati pertigaan Gerbang Angin..



Setelah kita sampai di Gerbang Angin, perjalanan semakin bersemangat. Banyak orang yang meneriakkan semangat kepada kami, dan sesekali guyonan khas anak gunung, "Ayo Mbak, semangat! Bentar lagi puncak lo, disana ada Indomar*t.." Dan, entahlah berapa banyak orang yang bilang demikian, tapi kami selalu saja tehibur dan tertawa senang. Dan, beberapa menit menuju puncak, itu adalah bagian yang terberat. Tangan kami semakin kuat menggenggam batuan pijak, mata kami semakin tajam melihat batu sebelah mana yang harus kami injak, dan tekad kami pun demikian. Kita sudah terlalu banyak berkorban untuk menyerah sekarang. Oh iya, menuju Gerbang Angin kita tinggal berlima karena Nurul sakit asma. Tapi, nanti lihatlah keajaibannya di puncak.

Puncak

Setelah beberapa menit kita berjuan dengan tebing dan tanjakan yang curam, terdengar riuh yang menggetarkan. Lagu Indonesia Raya berkumandang dan sekelebat bendera mulai terlihat. Rasanya benar-benar seperti mimpi. Dan, inilah pijakan terakhir. KAMI SAMPAI PUNCAK TERTINGGI. Iya, kami sampai juga dengan kostum akhwat seperti ini. Dan ternyata, jodoh itu bukan hanya soal antara perempuan dan laki-laki, tapi juga tentang kita dan samudra awan tujuh belas Agustus, tentang puncak tertinggi Merbabu, juga tentang mentari Hari Kemerdekaan. KITA SAMPAI PUNCAK dan kami lengkap karena Nurul segera menyusul dengan gesit. KAMI SAMPAI PUNCAK. Disini, di bawah langit yang begitu dekat dengan bumi, kami berdoa menikmati semua. Betapa kecilnya kami, betapa agungnya ciptaan-Mu. Betapa lemahnya kami, dan betapa kuatnya mahakarya ciptaan-Mu. KAMI SAMPAI PUNCAK. Allahuakbar! Dan, disinilah kami belajar bahwa:
"Mendaki itu bukan tentang menaklukkan puncak, tapi tentang menaklukkan diri sendiri atas keraguan dan keputusasaanmu mencapai puncak.."
Puncak Merbabu


Puncak Merbabu


Puncak Merbabu


Save Egypt di Puncak Merbabu


Perjalanan Pulang


Perjalanan pulang terasa begitu singkat walaupun kami harus berseluncuran menciptakan debu dan memeluk pohon untuk menghentikan laju kecepatan turun. Hanya 3 jam kemudian kami sudah sampai di bawah dan pulang menuju rumah. Ya, akhirnya kisah ini berakhir. Semoga menjadi perjalanan yang berkah dan cerita yang menuai ridho Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Jika boleh aku katakan, sampai jumpa di puncak lainnya, tempat dimana kita begitu dekat dengan langit, dekat dengan Sang Pencipta, Allah Subhanahu wa Ta'ala :) Allahumma aamiin


Puncak Merbabu, 17 Agustus 2013.

Ditulis malam hari,
Bantul, 26 Desember 2013.

No comments:

Post a Comment