Wednesday, February 6, 2013

My Lovely Sista


Assalamu'alaykum warahmatulloh..



Baiklah, aku menyisakan satu hutang tulisan teruntuk orang yang telah mendampingiku, memberikanku banyak pelajaran tentang hidup dan pilihan, yang telah menjadikanku salah satu fans sejak aku kecil, my lovely sista. Mbak Medya. Mungkin akan sedikit random hari ini, semacam kepingan puzzle yang silakan mbak susun sendiri.

Orang bilang gunakan waktumu sebaik-baiknya dengan semua sahabat, keluarga, dan temanmu sampai kau akan merasa bahwa suatu hari nanti kau 'kehilangan' dia dengan cara yang bahagia. Pernikahan. Ya, semacam perpisahan yang bahagia karena kau tetap tersenyum mesti dinomor duakan, kau akan tetap tersenyum meski tidak ada lagi yang menemanimu bergulat di meja belajar, kau tetap teguh ketika tidak lagi menjadi yang dinomorsatukan, kau tetap tersenyum ketika akan sangat jarang kau duduk berdua makan oseng-oseng mercon di pinggir jalan. Nungki, kau adalah orang yang paling bahagia saat itu walau kau dinomorduakan.

Bagiku, ada yang mengharu biru ketika untuk pertama kalinya bapak duduk di Masjid, menikahkan Mbak dengan teduhnya. Kalau aku boleh menceritakan perasaanku, saat itu adalah saat bahagia yang benar-benar random. Terbesit apa yang nanti akan terjadi, tapi aku yakin, sudut mata sebelah mana yang tidak mengharu biru ketika akad dibacakan dan tetiba status mbak sudah menjadi istri orang.

Kita pernah kecil bersama, walaupun aku tidak ingat bagaimana caraku berkenalan dengan Mbak Medya untuk pertama kalinya. Dan aku tak butuh tau cara kita berkenalan, aku membutuhkan setiap memori pelajaran hidup tentang pilihan-pilihan, memilih untuk bermain kapur di lantai, memilih untuk hujan-hujanan di luar, memilih untuk makan apa hari ini, memilih tentang hal remeh-temeh yang dulu aku sepelekan. Aku bahagia untuk setangkup kisah rumahan kita, keluarga yang hangat, canda yang tepat, bapak yang bijak, ibu yang tak lelah, adik-adik yang rempong, dan semua tentang pembagian tugas rumah. Sungguh, itu sebuah kelengkapan yang tidak bisa aku pisahkan walau pada akhirnya mbak memutuskan untuk bersekolah di Jakarta. Tapi, bagiku tetap lengkap, sampai hari ini kita masih lengkap. Sebuah keluarga bernaungan cinta Alloh SWT.

Terselip sebuah doa teruntuk keluargaku, entah sampai kapanpun nanti, yang selalu terlantun lirih setelah aku selesai bersujud pada-Nya..

“Ya Alloh, jagalah bapak dan ibu ketika penjagaanku tak sampai padanya. Rengkuhlah kakak-kakakku dan adik-adikku ketika kedua tangan ini tak pernah mampu merengkuhnya.”

Mbak Mey, barakalloh untuk setiap kepingan kehidupan yang baru. Perjuangan dimulai, aku yakin persiapan mbak untuk menjadi istri dan ibu sudah lama. Aku yakin mbak lebih tangguh dari adikmu ini, aku yakin mbak bisa mengatasi setiap gejolak. Letakkan semuanya kepada Alloh SWT, dan kalian akan baik-baik disana. Di bumi Alloh manapun, kalian akan baik-baik saja insyaAlloh. Segala kewajibanmu sebagai qiyadah pasukannya Pak Heri kini berpindah, doakan aku supaya bisa membantu bapak ibu menjadi dik Putri dan dik Riski. Aamiin Ya Rabb..

“Biarlah seperti ini, jarak memisahkan dan pertemuan jarang dilakukan. Aku membutuhkan rasa rindu ketika dari kejauhan kau datang dengan senyum yang membuncah. Saat itulah pelukan akan lebih erat, tatapan akan lebih bermakna, dan rasa cinta akan kuletakkan pada yang menciptakan rindu, kasih, cinta, dan haru. Uhibbuki fillah ya ukhty”

No comments:

Post a Comment