Friday, December 28, 2012

Refleksi Diri tentang Jilbab (Khimar)


Entah ini tahun keberapa aku mengenakan jilbab yang benar-benar syar'i menurut prinsip hidupku dan menurut pemahamanku tentang cara berhijab yang baik hari ini. Tahun ketiga kurang sedikit sepertinya. Tapi bagiku, ini sebuah nikmat syukur yang luar biasa karena sampai nafas ini membersamaiku siang ini, tangan ajaib-Nya masih merengkuhku, mengajakku dengan manis untuk menyusuri tepian jalan istiqomah. Ya Rabb, aku merindu-Mu untuk setiap jengkal hidayah yang pernah kau sisipkan dengan manis saat jungkir balik dunia SMA hampir memimpin nafsu akan perhiasan dunia yang fana.

Keputusan menggunakan jilbab ini memang bukan keputusan yang instan. Ibu mengajariku tentang pemaknaan proses, sejak aku kecil kalau boleh aku ingat. Kelas 6 SD ibu mulai melarang keluar rumah dengan celana pendek dan mlailah aku keluar rumah dengan bercelana panjang. SMP memulai dengan jilbab mini hadiah dari bulik, dan seterusnya hingga kelas 2 SMA kuputuskan menggunakan rok, kelas 3 SMA kuputuskan menggunakan kaos kaki dan memanjangkan jilbab. Bagaimanapun, ibu mengambil peran penting saat Alloh menyisipkan lembutnya hidayah kepadaku. Ya Rabb, aku merindu-Mu dengan cara-cara halus-Mu mengingatkanku tentang pentingnya menjaga izzah seorang wanita, bukan hanya sekedar untuk mendapatkan suami yang sholeh karena siapa yang tahu lembaran buku induk-Mu, bisa saja aku ditakdirkan untuk mendakwahi suamiku nanti, tapi lebih kepada karena aku telah memutuskan untuk beriman kepada-Mu maka akan kujauhi segala larangan-Mu dan kujalankan segala perintah-Mu. Cukup Alloh bagiku.

Proses ini bukan instan, mungkin saat itu orang-orang tangguh di sekitarku adalah orang yang sangat sabar membimbingku dan menjawab pertanyaan-pertanyaan ala anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang cara berjilbab yang baik. Maka, jika aku boleh mendiskripsikan kalian teman-teman Rohis yang manis, kalian adalah buku yang setiap kutuliskan pertanyaan dengan pena khilafku, kau segera menjawab dengan hikmah dan keteduhanmu.

Sangat terbayang waktu-waktu yang mendebarkan, keluar kamar dengan jilbab yang melebar dan sorot mata ibu kala itu. Ah aku tau sekali, pasti ibu takjub dengan hal-hal semacam ini. Diburu banyak pertanyaan memang, mulai yang di rumah, tetangga, teman-teman di TPA, teman-teman les, teman-teman perempuan, teman-teman laki-laki, dan adikku. Semua  menanyaiku tentang jilbabku yang melebar. Ada banyak caraku menjawab, mulai yang serius sampai yang kujawab hanya dengan senyum dan diam. Itulah awal yang sangat berat, mulai dari beberapa kawan yang segan hingga yang sangat aktif memberitahuku tentang "bahayanya" menggunakan jilbab selebar itu. Innalillah wa innallaha ma'anna. Hanya itu yang kupikirkan, cukup Alloh Nungki, Alloh saja sudah cukup bagimu.

Dari keteduhan seseorang, aku mendapatkan sebuah hikmah yang sangat aku rasakan hingga hari ini, hikmah tentang refleksi diriku sampai hari ini. Jazakillah ukhtiku sholihat, kau yang sangat tahu jungkir balikku saat SMA hingga aku telah menjadi Nungki yang sekarang. Pesanmu yang tersirat, aku sekarang bisa membahasakannya. Yah, aku tahu kosa kata kita kala itu sangat buruk, belibet dan sebagainya. Akhirnya, aku bisa membahasakannya hari ini, untukmu jua ukhti sholihat.
"Perjalanan panjang tentang kehidupan yang lebih baik itu pasti kamu mulai dengan satu langkah besar yang sangat lelah dan payah Nungki. Hanya dibagian langkah pertama saja. Selanjutnya, keajaiban Alloh akan berpihak padamu karena lelah dan payahmu pasti dibayar. Percayalah.."
Inahsantum ahsantum lianfusikum wa inasa'tum falahaa..


"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.." (An-Nur : 31)

1 comment:

  1. subhanallah
    inspiratif banget mbak
    memang banyak wanita yang berkerudung disaat ini tapi masih telanjang
    krna mereka menanggap berhijab adalah sebuah tren tapi bukan kewajiban
    jarang ada wanita yg seperti itu

    ReplyDelete