Friday, November 9, 2012

Melukis Masa Kecil dengan Mereka

Bismillah..




Ternyata benar, hidup mengajarkanku tentang pemaknaan waktu yang luar biasa. Jika kosa kata rindu itu tidak ada, maka pemaknaan waktu itu tidak akan semanis hari ini. Bahwa dari kosa kata itu kita belajar memaknai setiap pertemuan dan dari kosa kata itu kita akan menemukan momentum-momentum yang akan melukisakan senyum di tahun-tahun mendatang. Selamat datang 'rindu'. Kau menghujamkan binar yang luar biasa di pelupuk mata sebelah manapun.

Membuka file lama, menemukan folder "TPA" dengan bilangan tahun 2002. Sudah lama sekali memang dan kalau dihitung-hitung saya masih kelas 3 SD kalau tidak slaah. Satu tahun setelah pindah dari kontrakan ke rumah baru di Gesikan. Itulah saat yang paling kusukai. Rumah baru, teman baru, lingkungan baru, permainan baru, dan TPA ku yang baru.



Entah kenapa, masa kecil saya identik dengan pematang sawah, sungai, TPA, pasaran, bikin rumah pohon, rumput liar, dan segala yang berbau pedesaan. Bukan mainan game, bukan apapun itu, tapi seingatku aku mengenal pelepah pisang, rumah pohon randu, bunga sukun, tanah, pecahan genteng, bata, dan segala yang berbau desa. Dan, inilah rumah baruku dengan segala perlengkapan permaianan yang tak pernah saya rasakan di beberapa kontrakan yang lama. Tapi, paling istimewa adalah mereka (Mbak Ririn, Reni, Desi, Novi, Feni, Citra). Maaf ya aku sebut nama kalian..



Cerita pertama tentang pematang sawah..

Setiap pulang sekolah, setelah makan siang maka langsung aku hamburkan langkah kakiku keluar dengan adikku, Dek Putri. Bertemulah kami berenam, disebelah barat rumah Desi dan menyusun apa yang harus kita lakukan hari ini. Main petak umpet, gobag sodor, tarik tambang dengan rumput liar depan rumahku, nyebur di sungai dekat pohon rindang di tengah sawah, main pasar-pasaran dan bikin tempe dari kereweng (pecahan genteng), atau bikin minyak-minyakan dari daun randu. Lengkap sudah masa-masa itu, tertumpah ruah siang hari hingga menjelang senja. Kalaupun tidak, TPA yang kemudian mengharuskan kita berpulang siang hari untuk mandi dan sekedar merapikan baju untuk berangkat TPA. Dulu, hal yang menantang ketika berangkat TPA adalah saat-saat melewati rumah mbak-mbak yang (maaf) tidak normal dan berbalapan dengan angsa milik Bu Nanik biar tidak 'dicium'. Hah!! Aku ingat semua bahkan saat-saat ketika kita berangkat ke TPA melewati tepian-tepian kolam ringin yang biasanya banyak orang tercebur disana. Jika boleh aku mendaftar, hal yang sungguh aku tak mau lupa adalah bermain sawah, nyanyi lagu india dengan selendang tari, dan piknik di tepian sawah sambil bakar cethol. Aku hanya ingin mengingatnya, hari itu sungguh, tidak ada beban hidup, lepas, selepasnya masa anak-anak yang penuh dengan warna-warni permen coklat cha-cha. Dan hari ini, selamat datang 'rindu'. Kau menghujamkan binar yang luar biasa di pelupuk mata sebelah manapun tentang kisah enam bocah kecil dan pematang sawah.

Cerita kedua tentang sepertiga malam yang berbintang,
Hari itu aku masih ingat, untuk pertama kalinya berkemah ria dengan teman-teman TPA. Hari itu, dengan segala kepolosanku dimulai dengan bersepeda bersama teman-teman satu angkatan TPA Al-A'Raaf menuju Goa Selarong. Baiklah, yang tersisa di memori ini adalah kami yang basah kuyup karena terlalu bergembira melihat air terjun. Pulang dari gua langsung kering karena jalanan yang terjal dan menurun hingga angin yang membuat kami kering dengan sendirinya. Dan, kami pun memutuskan untuk tidak mandi. Agenda selanjutnya adalah masak ikan balado. Ya, masih sekecil itu, kelas 3 SD masak balado ya terjadilah ibu-ibu yang menunggui yang memasak. Apapun itu, aku suka kesederhanaan cara mereka membuat konsep mini camp saat itu juga tentang radio pesisir kidulnya Pak Jonet jadi ajang untuk titip salam antar tenda. Suka, sangat suka. Tidak hanya mini camp, dan yang paling berkesan adalah mabit militan ala anak-anak TPA. Itu adalah mabit paling militan yang pernah saya alami semasa kecil, outbond di sepertiga malam dimana kami harus menancapkan bendera kelompok di jugangan (tempat sampah) dekat kolam, dimana kami harus muterin satu kuburan yang ada di dekat kolam SD, dan berjalan dari SLB ke balai desa dengan lampu sentir. Malam itu terbayar ketika ba'da sholat tahajjud bersama kami diperbolehkan berbaring dihalaman TPA Al-A'Raaf. Saat itulah, untuk pertama kalinya melihat bintang berpindah, bintang jatuh yang katanya itu adalah batu yang dipakai oleh malaikat untuk melempari jin yang mencuri dengar takdir manusia, aku lihat malam itu di halaman samping TPA bersama kalian, memetakan langit, menghirup udara sepertiga malam, dan sampai hari ini aku belum pernah mengulanginya lagi. Dan tergenapkan sudah malam itu, jalan-jalan di tengah sawah dengan sarapan kue kukis hangat. Dan hari ini, selamat datang 'rindu'. Kau menghujamkan binar yang luar biasa di pelupuk mata sebelah manapun tentang kisah sepertiga malam bersama bintang.

Cerita ketiga tentang kehilangan,
Jangan pernah berpikir aku bahagia-bahagia saja karena saat itu kami harus kehilangan teman kecil kami. Mungkin ini semacam cerita sinetron, tapi saat aku kelas 3 SD aku benar-benar mengalaminya. Dia, teman kecil laki-laki yang belum lama saya kenal. Disaat teman sebayanya kelas 3 (termasuk aku), dia masih tinggal di kelas 1. Bukan karena apa-apa kupikir waktu itu, hingga kami tau kalau teman kami yang satu ini sakit. Siang itu, kami melihatnya digendong menuju rumah sakit. Melihatnya lemah dan tidak seceria biasanya. Oh iya, dia adalah anak yang paling lucu diantara keenam teman kecilku, dia adalah yang paling tampan (karena memang laki-laki sendiri) dan tentunya dia yang paling pertama menjajal sepeda hijau milikku. Baiklah, siang itu berlanjut. Akhirnya, kami mengadakan sholat jamaah ala anak-anak bocah kelas 3 SD, saya waktu itu yang mengimami keenam temanku dan memimpin doa untuk teman kita hingga akhirnya kami tau bahwa teman kami sakit kanker otak. Baiklah, mulai saat itu kami tau apa yang menyebabkannya tidak naik kelas hingga dua kali. Sore itu langit menyenja, membawakan berita duka. Teman kami berpulang dan gerimis menghantarkannya ke pemakaman, masih sangat ingat. Menangisinya dengan sebenar-benarnya tangis ala anak kecil yang sebelumnya tidak tau apa itu kematian dan kala itu kami langsung belajar. Ada yang akan hilang suatu hari nanti. Ada yang harus berpulang suatu hari nanti. Dengan segala kesamaran memoriku tentang raut wajahnya, semoga kau ditempat yang lebih baik disana. Dan hari ini, selamat datang 'rindu'. Kau menghujamkan binar yang luar biasa di pelupuk mata sebelah manapun tentang kisah kehilangan yang abstrak.

Akhirnya, diamanakah kalian teman-teman? Mbak ririn, selamat berkuliah ria dengan keahlian komputermu. Mbak Feni, selamat berproses dan menikmati jerih payah kerja mu hingga petang. Desi, Novi, jadilah kakak adik yang manis hari ini. Renii, selamat menjadi atlit putri yang luar biasa di sekolah atlitmu. Dan terakhir, untuk adikku Dik Putri, jadilah perempuan yang sesederhana ibu, nggak aneh-aneh. Sukses untuk semua, terima kasih mengizinkanku masuk sejenak dalam memori-memori masa kecil. Kelak, akan ada banyak kejutan dalam hidup ini, bersiap siagalah. Aku merindu saat-saat beban ujian ala anak SD dapat hilang begitu saja hanya karena bermain petak umpet!!

9 November 2012
Sudut Ruang Tamu dengan suara khas ibu dan adik-adik

No comments:

Post a Comment