Wednesday, January 25, 2012

Indahnya Tolong-menolong Itu

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh


Ingin berbagi cerita singkat tentang alunan takdir yang indah. Ini tentang aku, motorku, lempuyangan, bapak, pak satpam, dan bapak itu.

Siang itu, penuh harap ingin pergi ke kampus karena ada jadwal konsultasi dengan dosen. Seperti biasanya, motorku aku ajak untuk menemani perjalanan yang singkat. Awalnya, dia (motorku) baik-baik saja. Tersenyum sepanjang jalan (emang apaan ya?). Hmm hingga akhirnya dia berhenti tepat disebelah utara rel kereta api Lempuyangan. Satu hal yang aku syukuri, alamdulillah dia tidak berhenti di rel kereta api karena apa? Ya, karena dia (motorku) tidak bisa maju tapi bisanya mundur. Ya Allah, aku mulai terserang kepanikan, namun sedikit demi sedikit mulai menguasai jalannya takdir ini. Aku tepikan motorku dengan menggesernya karena dia tidak bisa maju.

Akhirnya sedikit berasa lega karena si motor berhasil aku tepikan. Setelah itu, aku mulai berpikir dan ternyata HP adalah pertolongan kedua setelah berkhusnudzan pada Allah. Aku telpon bapak dan aku suruh beliau datang buat ngecek motor. Kebetulan bapak mau ke Jogja juga, jadi biarlah sekalian mengecek. Awalnya mau cari bengkel, tapi sepertinya tidak bisa karena si motor tidak mau maju, maunya mundur (jangan tertawa ya..).

Berhubung Bantul-Lempuyangan bukan tetanggaan, aku harus menunggu kira-kira 45 menit. Lama. Tapi ternyata sabar adalah teman yang paling setia hingga akhirnya ada bapak satpam yang manggil-manggil
"Dek, motornya rusak ya?" bapak satpam itu teriak-teriak di seberang jalan.
"Iya, pak.."sahutku pelan.
"Bawa kesini aja, dek. Biar bapak cek.."
"Maaf pak, motornya tidak bisa maju, bisanya mundur,"
Bapak itu lantas menyebrang dan ngecek keadaan si dia (motorku). Kata beliau, remnya kekunci dan ternyata beliau tidak bisa benerin.

Oh takdir, betapa indahnya Allah mengalunkan pena di lembaran daunku di lauh mahfuz. Tiba-tiba ada bapak-bapak setengah baya menepikan motor pitung merahnya.
"Motornya rusak ya?" tanya bapak itu.
"Iya ini Pak, remnya kekunci," kata bapak satpam itu.
"Bentar ya, bapak juga tukang bengkel ko dek,"
Huah, si hati meletup-letup. Bersyukur sekaligus tertegun akan indahnya takdir ini. Alah memang begitu dekat. Selain itu, satu hal yang aku pelajari dari kata-kata bapak tukang bengkel ini.
"Tidak ada sedekah yang lebih indah bagi orang miskin kayak bapak dek selain tolong-menolong"
Ah bapak, pintar sekali bapak menyentil si hati yang tertegun ini. Sungguh, kata-katamu membuatku semakin sadar bahwa berbagi itu indah. Tak harus dengan uang karena senyum pun ibadah yang menakjubkan.

Akhirnya, setelah menunggu beberapa menit motorku sudah kembali pulih dan akhirnya bapak pun datang dari Bantul. Tidak terlambat kok bapak karena melihat bapak khawatir itu sudah sangat membuatku percaya bahwa bapak lebih dari peduli.

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

2 comments: