Friday, November 25, 2011

Senja yang Tergurat Hitam (Cerpen Kelas 3 SMA)


Pagi hari di SD Pelita. Matahari tak pernah lelah memancarkan reaksi cahaya kehidupan. Fatamorgana menjadi bayang-bayang kiasan di tanah tandus tanpa rumput. Bau tanah kering bercampur debu menyeruak masuk ke dalam kelas-kelas kecil yang beralaskan tanah. Sorot cahaya matahari berlomba-lomba masuk melewati lubang-lubang dinding rapuh. Begitulah SD pelita, tempat Toroni Putra Ikhwan mengenyam pendidikan tanpa fasilitas mewah apapun.
Pagi ini, Bu Rina menghadiahi muridnya dengan lembaran ulangan IPA hari kemarin. Tidak ada yang takut, cemas, apalagi khawatir. Mereka ini anak-anak kelas satu. Kalau dapat jelek paling hanya kena marah orang tua saja.
Satu per satu murid maju ke depan. Bu Rina memanggil dengan lantang, “Wikan.. selamat ya kamu dapat 100. Roni... kamu juga ya... Sela... Tika... ” akhirnya nama Ikhwan pun dipanggil Bu Rina.. “Ikhwan.......”
“Iya, Bu..” Ikhwan berlari menuju depan kelas dan meminta hasil ulangannya.
“Kamu tidak belajar lagi ya? Kenapa nilaimu seperti ini?” tanya Bu Rina dengan halus.
“Saya belajar, Bu. Tapi, yang saya pelajari tidak ada yang keluar di ulangan ini.” Sahut Ikhwan dengan serius. Matanya berkaca-kaca. Seakan-akan ini adalah de javu yang terus-menerus berulang. Ya, untuk kesekian kalinya Ikhwan mendapat nilai buruk.
Ikhwan. Bocah berusia sembilan tahun yang selalu nampak riang. Ia lihai merangkai kata-kata unik untuk membuat sahabat-sahabatnya tertawa. Sayangnya, ia juga sering dijadikan bahan bulan-bulanan temannya ketika mendapat nilai buruk. Ya, Ikhwan memang berumur sembilan tahun, namun ia masih duduk di kelas 1. Ironis memang, ketika teman-temannya sudah berada di kelas 3, ia tetap berada di kelas 1 lebih dari 2 tahun. Begitulah gambaran takdir Tuhan, menjerat setiap makhluk-Nya. Semua sudah terprogram dengan rapi hingga setan pun tak mengetahuinya.
“Temen-temen, Ikhwan dapat nilai nol.. hahahaha” kata salah satu temannya.
“Berarti kita nanti bisa masak-masakkan di rumah Ikhwan. Kan ada telur gede!! “ kata teman yang lain.
Ikhwan hanya diam dan membalasnya dengan senyuman. Biasanya, setelah beberapa menit, ia akan kembali bercanda dengan teman-temannya. Butuh beberapa waktu untuk menenangkan jiwanya yang sempat tertoreh luka batin. Tapi Ikhwan selalu optimis, dunia berputar, kalau kau berhenti pasti akan terjatuh di sisi yang bawah.
Hari-hari Ikhwan terasa berat. Beban mentalnya bertambah ketika orang tuanya terus membanding-bandingkan dirinya dengan kakak perempuannya. Kak Ara memang siswa pintar. Juara kelas sudah hal biasa. Bahkan, tidak ada satu orang pun yang menanyakan kalau ia pulang sekolah dengan piala atau tropi penghargaan ditangannya. Justru, orang akan banyak bertanya kalau sampai Ikhwan jadi juara kelas.
Berbicara masalah sahabat, Ikhwan memang punya banyak sahabat. Tapi, senja adalah yang terbaik baginya. Ya, senja. Begitulah Ikhwan menyebut teman alamnya. Suasananya sama dengan hati dan hidupnya. Senja tidaklah banyak dipancari mentari namun tidak juga ditinggal pergi. Warnanya yang merah marun membuat hidupnya tidak terlalu ceria namun juga tidak terlalu gelap. Senja adalah waktu saat hari akan beranjak pergi, namun ia belum mau pergi. Namun, senja mendamaikan hati siapa saja yang mau merasakan aromanya. Ikhwan dan senja seperti dua unsur yang saling berikatan, seperti dua besaran yang saling berbanding lurus dan seperti sistem organ yang tak bisa dipisahkan. Begitulah Tuhan berkehendak dengan titah-Nya.
Lagi-lagi senja datang. Begitu Ikhwan keluar, ia tersenyum pada alam. “Jangan kau hina aku ini! Aku memang bodoh. Tapi yakinlah kawan, pasti Tuhan akan menjawab semua ini dengan jawaban-Nya yang sangat bijak. Aku menanti Tuhaaaaan!!!” tergores awan tipis yang melengkung kebawah. Senja pun tersenyum pada Ikhwan. Mencoba memberi jawaban yang semoga melegakan hati kecilnya.
Ikhwan sejak kemarin memang sedikit kurang enak badan. Tubuhnya lemas dan matanya berkantung hitam. Pusing sudah jelas. Ibu Ikhwan bilang kalau Ikhwan memang seperti ini, kerap jatuh sakit dan malah tiba-tiba pingsan begitu saja. Ibunya tidak mau ambil pusing karena neneknya bilang kalau orang bodoh ya seperti ini, mudah ditemani penyakit.
Lain nenek lain pula Kak Ara. Kak Ara sore ini akan membawa Ikhwan ke rumah sakit untuk sekedar check up kalau-kalau ada yang dikhawatirkan. Tapi, hasil uji laboratoriumnya baru ketahuan besok.
Senja hari ini lebih cerah dan banyak guratan-guratan merah di sisi barat. Awannya juga nampak berbeda, berbentuk ombak kasar tanpa ada senyuman dan kepakkan sayap burung. Angin terlalu tenang, kicauan burung tak berasa dan aromanya bercampur rasa duka. Kak Ara duduk di samping Ikhwan. “Ikhwan, kamu suka senja ya?” tanya Kak Ara.
“Iya, aku berteman baik dengannya. Dia mendidikku lebih dari semua sahabatku.” sahut Ikhwan lembut seraya memandang senja yang masih bertengger di peraduannya.
“ Oh... Besok ke rumah sakit ya? Kamu harus dirawat. Cuma sebentar kok, jadi nggak usah khawatir.” Kak Ara bergegas pergi sebelum Ikhwan tanya macam-macam dengannya.
Ikhwan hanya sedikit berpikir lalu membiarkan pikirannya itu melayang. Tak perlu berpikir berat-berat.
Keesokan harinya, Ikhwan pingsan dan harus dilarikan di rumah sakit. Kak Ara lebih histeris dari biasanya. Dia menangis tertatih-tatih sambil terus mengawasi adiknya yang dilarikan di rumah sakit. Sebenarnya Kak Ara sudah tahu kalau adiknya sakit kanker otak. Bahkan, tidak ada lagi harapan untuk kesembuhannya.
Benar saja, beberapa jam kemudian nafas Ikhwan terhenti. Matanya menutup seketika. Jantungnya berhenti berdetak. Darahnya berhenti ditengah jalan yang sebenarnya bukan tempatnya berhenti. Ubun-ubunnya berhenti bergeming dan hubungannya dengan Tuhan semakin dekat. Begitulah pada akhirnya Tuhan menjawab semua hinaan alam dan kawan. Kebodohannya bukanlah keinginannya. Semua karena penyakit yang selama ini ingin berkawan dengan Ikhwan.
Sore hari, senja pun dipenuhi guratan hitam. Sepi dan sunyi. Alam menangis dengan gerimisnya, menyaksikan kawannya yang hilang tak lagi menyapa. Namun senja sedikit bahagia karena Tuhan mengirim sahabatnya lebih dekat ke surga.

No comments:

Post a Comment