Wednesday, November 30, 2011

Berbagi Pundak

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh


Sebuah pesan singkat mampir di inbox malam ini. Permasalahan umat dan ini begitu umum dirasakan oleh semua yang sedang berjalan di jalan dakwah,  oleh semua yang masih berkeringat di jalan keistiqomahan, dan untuk mereka yang masih terengah-engah di jembatan taqwa. Ukhti, ini balasanku. Semoga kita tetap bergandengan tangan dalam nafas ukhuwah meski mata ini jarang bertemu dan mulut ini jarang berucap sapa. Begini pesan singkat itu (tentunya sudah saya edit ukh, tapi insyaAllah intinya sama):


"Ukhti, ada apa dengan hijab ini? Ada apa dengan jilbab ini? Dipandang sebelah mata dalam sebuah masyarakat kecil yang sebenarnya dari sana saya ingin belajar banyak. Apa yang mereka katakan sangat menyakitkan, apa yang saya kerjakan seakan salah. Memakai jilbab seakan hal yang tabu. :("


Ya, pesan itu singkat dan terakhir ia meminta sebuah nasihat, meminta sebuah kekuatan dalam dekapan ukhuwah, meminta untuk berbagi beban dalam pundak dan insyaAllah dalam jubah ukhuwah ini tak pernah ada kata tidak untuk berjuang dalam jalan dakwah.


Ukhti, pernah dengar sebuah kisah tentang kelelahan-kelelahan para pejuang dakwah? Coba anti baca disini (klik).


Sudah baca kan? Lelah memang, hidup sebagai pejuang dakwah di akhir zaman, lelah memang hidup dalam minoritas yang tak pernah disajikan canda tawa,lelah memang berjuang dalam dakwah yang tak pernah menjanjikan ketenaran, dan pada akhirnya sangat lelah memang, berjuang sendiri menghadapi jalan terjal sebuah keistiqomahan.


Dunia ini hanya cerita fiksi, biarlah mengalir seperti jalan ceritanya di lauh mahfuz. Tapi, jangan lupa untuk tetap berikhtiar selagi masih ada yang dapat diikhtiarkan. Masalah umat itu memang susah disefinisikan, biarlah kita tetapkan pada qada dan qadhar-Nya. Satu yang ingin saya tekankan, 


"MUNGKIN KITA LELAH MENDENGAR CACI MAKIAN MEREKA, TAPI ADAKAH CARA LAIN SELAIN BERTAHAN?"


Pada akhirnya semua hanya saling menghormati, jika masih bisa, ucapkanlah walaupun hanya satu ayat. Jangan mundur atau bahkan menghilah, perlihatkanlah caramu untuk bertahan. Allah bahkan sangat dekat, lebih dekat dari syaraf nadimu.


Ukhti, apa sih yang kita tuju? Bukankah syurga? Maka mengapa semua ini begitu pahit, karena syurga itu begitu manis. Hammasah ukhtiku sholihah :)


Afwan, mungkin ini yang dapat saya bagikan, tidak seberapa memang. Tapi, saya menyediakan pundak ini untuk membagi luka-luka yang sempat berlubang, membagi robekan-robekan iman yang kadang berceceran. Ana uhibbuki fillah (Aku mencintaimu karena Allah)


Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh


Ditulis: Malam hari bersama bayanganmu, ukhtifillah :)

No comments:

Post a Comment