Wednesday, November 16, 2011

Sutradaranya Allah dan Semuanya Indah

Assalamu'alaykum warahmatuLlahi wabarakatuh


Malam ini, sedikit merefleksi diri dengan masa itu. Masa dimana orang menyebutnya dengan "galau". Tapi, saya lebih suka menyebutnya dengan kata "saat-saat penantian". Ya, menantikan takdir dan menantikan dibukanya lembaran daun di Lauh Mahfuzh yang sudah ditulis dengan indah oleh-Nya.


Hari itu, masih sangat jelas tergambar, duduk di serambi musholla SABA bareng teman-teman. Mentoring hari ini lebih banyak berbicara tentang mimpi. Satu-persatu dari kita harus membacakan "Peta Hidup" kira-kira 10 tahun yang akan datang. Hal yang menggelikan adalah kalau tiba saatnya untuk membacakan pada umur berapa kita akan menikah (masih ketawa-ketawa kalau ingat ini tapi bismillah). Tapi, bukan itu yang akan dibahas. Ini tentang rencana dan garis hidup.


Masih ingat kata-kata bapak sejak zaman dahulu kala, "Kita boleh merencanakan, tapi Allah lah yang menentukan". Ya, bapak pernah bilang bahkan beberapa kali bilang kata-kata itu waktu ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan keinginan. Misalnya saja waktu lomba di Semarang, sms bapak masih jelas tergambar dan tidak akan terlupakan (sms bapak: tetap istiqomah Nungki di Semarang, apapun hasilnya Allah yang menentukan. Tetap semangat). Ya, pada akhirnya semua itu sudah diatur dengan indahnya.


Kembali ke musholla. Hari itu seakan-akan semua rencana sudah tersusun rapi, seakan esok sudah akan tercapai. Semua orang dengan mudahnya membuat rencana termasuk saya. Rencana yang sangat indah, rencana yang sangat tinggi, rencana yang kadang dibilang orang tidak mungkin, dan semua rencana yang bahkan hanya sebuah ekspektasi diri terhadap keinginan. Tidak ada salahnya, justru malah benar. Bermimpilah karena mimpi itu seperti mata kompas, menunjukkan arah bagi pemiliknya.


Setelah beebrapa teman, tiba juga giliran saya untuk membacakan semua rencana saya. Kuliah di UGM Ilmu Tanah, penelitian, PKM, wisuda, dan bla-bla-bla. Semua saya tulis hitam di atas putih dengan rinci tentang kegiatan saya di UGM nantinya (padahal belum diterima waktu itu). Setelah selesai, pertanyaan dari ukhti murobbiku cuma satu.


"Dek Nungki nggak ada plan B?" tanya ukhti sholilah (Jleb)


Kemudian dengan bingungnya saya mencari-cari (mencari-cari artinya saya sebenarnya tidak punya) plan B. "Hmm, plan B kuliah di analisis kesehatan poltekes ukh terus kalau memungkinkan penelitian ya tetep penelitian," kalau ukhti baca,afwan jiddan sekali lagi karena waktu itu, jawabannya tanpa saya pikir panjang.


Pada akhirnya masa itu datang. Ya, masa-masa penantian itu datang. Menunggu memang memaksa si kesabaran bekerja berlipat-lipat, memaksa si hati untuk menunduk sangat teduh, dan meminta si lisan untuk menghemat kata-kata. Semua hal yang dilakukan seperti ada yang mengganjal. Ya, semua itu karena satu hal hingga sms itu datang dan bunyinya kira-kira seperti ini..


Untuk ukhti yang dalam masa penantian hasil ujian, apapun hasilnya nanti itulah buah dari ikhtiar. Apa yang bisa kita lakukan selain tawakal? Mari tetapkan hati pada qada' dan qadhar-Nya :)


Ya, lagi-lagi menyadari satu hal. Bukankah semua itu sudah dituliskan dengan indahnya di Lauh Mahfuzh? Maka dari itu mengapa ada kata tawakal setelah ikhtiar karena sejatinya ikhlas dengan keputusan-Nya adalah jalan terakhir yang ditempuh setelah melewati ikhtiar.


Hari itu ukhti seperti ingin berkata, "Apa lagi yang membuatmu gelisah? Tinggal tetapkan hatimu pada qada' dan qadhar-Nya dan semua akan selesai. Apapun hasilnya nanti, skenario-Nya itu lebih indah daripada selembar "Peta Hidup" yang kamu buat. Ya, sekali lagi tetapkan hati pada qada' dan qadhar-Nya dan akan ada pelangi setelah hujan"


Untukku: Ringankan beban Nungki dan syukuri semua amanah ini, fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?) Bismillah, jangan lupa beri hak badan untuk istirahat juga. Semoga akan segera datang mentari bersama pelangi setelah hujan.






Wassalamu'alaykum warahmatuLlahi wabarakatuh


Ditulis:
malam hari, tenggelan dalam jubah cinta bernamakan ukhuwah
(spesial untukmu laskar surga)

No comments:

Post a Comment