Friday, October 7, 2011

Untuk Bias-bias Surga

Assalamu`alaykum warahmatullahi wabarakatuh


Adaptasi


Apa kabar bias-bias surga yang cahayanya akan nampak di jannah-Nya?

Ingin berbagi sesuatu yang sangat menohok akhir-akhir ini. Langsung saja ya.. Bismillahirrahmaanirrahiim

Lingkungan baru, kondisi baru, keadaan baru, teman baru, amanah baru.. Semua serba baru. Beradaptasi untuk tetap beristiqamah di jalan-Nya bukanlah sekedar memaknai, tapi harus menggerakkan. Apa kabar bias-bias surga? (yang di Jogja,Jawa Tengah, Bandung, Jakarta, dll)

Pernahkah kalian terpikir, begitu rindunya dengan Rasulullah? Aku kadang iri, kepada sahabat-sahabat Rasulullah yang perjuangannya dibersamai beliau. Kadang aku iri kepada mereka yang hidup di zaman Rasulullah, sehingga, setiap permasalahan yang ada akan terdiskusikan dengan indahnya bersama Rasulullah. Aku iri, kepada mereka yang berdiri bersama Rasulullah di setiap perjuangan di bumi Allah manapun.. Aku iri, kepada mereka yang berbaris bersama barisan dakwah Rasulullah. Pada akhirnya, inilah kita. Dilahirkan di akhir zaman, menyerukan dakwah bukan sesuatu yang mudah..

Payah, mengeluh bukan jalan keluar.. Tapi, bagaimanapun aku iri dengan mereka.. Apa yang bisa aku lakukan hanyalah berkhusnudzan. Inilah kita hari ini, pejuang akhir zaman yang nama-namanya, insha ALLAH akan tercatat dengan tinta emas sebagai penggerak kejayaan Islam.

Hai anak muda yang suaranya masih di dengar, boleh saja Amerika menguasai dunia selama 2 abad. Tapi taukah kalian bahwa pemuda Islam juga pernah menguasai dunia selama 8 abad.

Perjuangan itu tidak hanya 1 atau 2 tahun teman. Mungkin kita harus seperti Nabi Nuh as yang menghabiskan 140 tahun hanya untuk membuat kapal. Itulah tinta emas dalam sejarah Islam.

Di barisan dakwah ini kadang  kita berdiri sendiri sedang yang lain mencaci-maki. Di lingkungan baru ini, kita mulai rajut ukhuwah yang nantinya mempererat barisan dakwah. Dari situ kita akan bertahan, saling mengokohkan dan bergandengan tangan.. Ya, meminjam kalimat Salim A Fillah, dalam dekapan ukhuwah, kita akan mengeja makna-makna itu, menjadikannya bekal untuk menjadi pribadi pencipta ukhuwah, pribadi perajut persaudaraan, pembawaan kedamaian, dan beserta itu semua; pribadi penyampai kebenaran. Dalam dekapan ukhuwah, kita tinggalkan Narcissus yang dongeng, menuju Muhammad yang mulia dan nyata. Namanya terpuji di langit dan di bumi.

Semangaaaat untuk bias-bias surga yang cahayanya akan terpancar indah di jannah-Nya. \(^,^)/
Jadikan semua yang serba 'baru' itu sebagai ladang dakwahmu..

Wassalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh

Ditulis:
malam hari, bersama siluet bertemakan ukhuwah

No comments:

Post a Comment